Wednesday, April 21, 2010

CPRO: Revitalisasi Tambak Udang(05/02)

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) merevitalisasi tambak Aruna Wijaya Sakti secara bertahap
pada 2010. Revitalisasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perseroan. (Vivanews/nlt)

CPRO: Petambak Plasma Desak CP Prima Lepas Dipasena(08/02)

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) telah menghabiskan lebih dari Rp 1 T untuk revitalisasi
tambak udang PT Aruna Wijaya Sakti dan PT Wachyuni Mandira dari anggaran sebelumnya sekitar
US$ 171 juta. Perusahaan menunda revitalisasi karena keterbatasan belanja modal
(capital expenditure/capex). Corporate Communications Manager Central Proteinaprima mengatakan,
perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam proses revitalisasi tambak itu.(vivanews/yc)

CPRO: Revitalisasi Tambak CPRO Telan Rp 1 T(08/02)

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) telah menghabiskan lebih dari Rp 1 T untuk revitalisasi
tambak udang PT Aruna Wijaya Sakti dan PT Wachyuni Mandira dari anggaran sebelumnya sekitar
US$ 171 juta. Perusahaan menunda revitalisasi karena keterbatasan belanja modal
(capital expenditure/capex). Corporate Communications Manager Central Proteinaprima mengatakan,
perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam proses revitalisasi tambak itu.(vivanews/yc)

CPRO: Dapat Restu Penundaan Bayar Obligasi Hingga Juni 2010(18/02)

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) berhasil memperoleh restu dari para kreditur
untuk menunda pembayaran cicilan obligasi global hingga akhir Juni mendatang.
Albert Sebastian, Sekretaris Perusahaan CPRO, mengatakan perjanjian standstill
atau penundaan pembayaran antara CPRO dengan pemegang obligasi Blue Ocean
Resources telah menjadi efektif. Perjanjian tersebut berlaku hingga 28 juni 2010.
(kontan/uth)

CPRO: Fadel beri waktu 3 bulan untuk CP Prima(18/02)

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memberi batas waktu kepada CP Prima untuk memutuskan berlanjut tidaknya proses revitalisasi tersebut. “Kami beri waktu tiga bulan, jika tidak, kami akan mendesak mereka (CP Prima) jual ke investor lain,” kata Fadel, Rabu (17/2).

Menurut Fadel, saat ini sudah ada beberapa investor yang melirik tambak CP Prima itu. "Satu dari dalam negeri, satunya lagi dari Malaysia," katanya, enggan memerinci.

Selain mengelola PT Aruna Wijaya Sakti, saat ini CP Prima mengelola dua perusahaan udang lain di Lampung, yakni PT Central Pertiwi (CP) Bahari (eks Bratasena) dan PT Wahyuni Mandira. Total luas ketiga tambak tersebut mencapai 59.000 hektare (ha), plus konsesi pengembangan lahan 186.250 ha. Ini merupakan yang terluas di dunia.

(Kontan/btr)

CPRO: Peringkat CP Prima Naik(22/02)

Fitch Ratings mendongkrak peringkat PT Central Proteinaprima Tbk dan obligasinya senilai US$325 juta
dari semula RD (Restricted default/gagal bayar terbatas) menjadi C. Analis Fitch mengatakan peringkat itu
diditetapkan menyusul pengumuman manajemen mengenai tercapainya perjanjian masa tenang
(standstill agreement) pada 17 Februari, yang disepakati lebih dari separuh pemegang obligasi.(bisnis/yc)

CPRO: CP Prima Kembali Minta Suspen Saham Dicabut(22/02)

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) kembali meminta PT Bursa Efek Indonesia (BEI)
untuk membuka kembali penghentian sementara perdagangan (suspen) saham perseroan.
BEI menghentikan sementara perdagangan saham CP Prima sejak 1 Februari 2010.
(vivanews/uth)