Wednesday, April 21, 2010

CPRO: Siap Ajukan Perpanjangan Standstill(23/02)

PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) akan mengajukan kembali perpanjangan standstill kepada
kreditur jika hingga 28 Juni 2010 belum mencapai kesepakatan restrukturisasi utang obligasi.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia sore ini disebutkan CP Prima
mengantongi 57,4% dari nilai obligasi Blue Ocean Resources US$325 juta, sehingga perjanjian
standstill menjadi efektif hingga 28 Juni 2010. (Bisnis/nlt)

CPRO: Jual Aset Anak Usaha(12/03)

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) menjual aset anak usaha senilai Rp103 miliar. Aset
tersebut merupakan milik anak usaha perseroan, PT Centra Windu Sejati yang berlokasi di
Medan dan Surabaya. Aset milik Central Windu Sejati tersebut dijual kepada SHS International
yang merupakan afiliasi dengan CP Prima melalui PT Central Pertiwi. Aset-aset yang dijual tersebut
meliputi cold storage dan procesing plants. (Investor/nlt)

CPRO: Central Proteinaprima Tbk belum bisa balikkan kinerja(31/03)

PT Central Proteinaprima Tbk pada 2009 belum dapat membalikkan kinerja perusahaan dan tetap menangguk
kerugian. Kendati belum mencetak laba, perusahaan mampu memperkecil kerugian yang diderita sebesar
46,66% dari Rp407,18 miliar pada 2008 menjadi Rp217,17 miliar. Rugi per saham pada 2009 menjadi
Rp5,4 dari Rp19,4 pada 2008.

Penjualan juga merosot sebesar 16,29% dari Rp8,16 triliun pada 2008 menjadi Rp6,8 triliun pada 2009,
sedangkan beban pokok penjualan berkurang 9,51% dari Rp6,62 triliun menjadi Rp5,99 triliun. (bisnis/gps).

CPRO: Tekan Kerugian 47%(01/04)

Penjualan bersih PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) merosot 16,37% menjadi Rp6,83 triliun
pada 2009 dibanding tahun sebelumnya Rp8,17 triliun. Penurunan itu antara lain disebabkan
anjloknya harga udang di pasar internasional dan penurunan volume ekspor ke berbagai negara,
khususnya US dan Eropa. Kendati demikian, manajemen CPRO berhasil mengurangi kerugian
sekitar 47% mejadi Rp217,17 miliar dari tahun sebelumnya Rp407,18 miliar. (Investor/nlt)

CPRO: BEI Evaluasi Kinerja CP Prima(07/04)

Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja keuangan PT Central
Proteinaprima Tbk (CPRO) yang mencatat rugi bersih sebesar Rp 217,17 miliar serta dampaknya terhadap
mekanisme pelunasan bunga kupon obligasi senilai US$ 17,9 juta.

CP Prima gagal bayar (default) bunga kupon surat utang senilai US$ 17,9 juta belum lama ini. Penyebab
default adalah serangan virus sehingga kinerja keuangan terganggu. Perseroan melalui anak usahanya,
Blue Ocean Resources Ltd, menerbitkan obligasi sebesar US$ 325 juta pada 2007 dan akan jatuh tempo
tahun 2012. (detik/gps).

CPRO: Perbankan Menghentikan Kredit(16/04)

Kegagalan panen PT Central Proteinema Tbk (CPRO) bukan hanya berpotensi gagal bayar obligasi,
tapi juga terhentinya aliran kredit untuk modal kerja anak usaha. Dua anak usaha CPRO, PT Aruna Wijaya
Sakti dan PT Wachyuni Mandira, memiliki perjanjian pinjaman dengan PT Bank Rakyat Indonesia
Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Nilai pinjaman yang disetujui maksimal Rp1,05 triliun
dengan sifat revolving (berkelanjutan). Pinjaman untuk modal kerja dan investasi yang semestinya
berkelanjutan itu terancam dihentikan karena prospek kinerja CPRO yang belum pasti akibat gagal panen.


Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku terus memantau perkembangan kinerja CPRO yang mencatat
rugi bersih hingga Rp217,17 miliar selama 2009. (Okezone/nlt)

CPRO: Hadapi CP Prima, KemenKP Tidak Tinggal Diam

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KemenKP) tidak diam menghadapi persoalan yang membelit CP Prima
yang menggarap lahan bekas Dipasena tersebut. Pemerintah sudah menawarkan agar CP Prima
mangendeng petambak yang memperoleh KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk menggarap lahan yang tidak
produktif. (kontan/gps).